
Cerita ini untuk mereka yang rindunya tidak pernah sampai.
Karena aku sedang belajar mengenal warna. Bukan yang di cat, tapi yang hidup di hati.
Cerita ini untuk mereka yang sudah mati sejak lama, hanya tubuhnya saja yang terlambat menyusul. Mereka yang berjalan seperti biasa, tapi tidak lagi hidup di mata siapa pun. Mereka yang hidupnya seperti dinding kosong—tanpa warna, tanpa coretan, tapi tetap berdiri hingga waktu yang memudarkannya.

Cerita ini untuk mereka yang hidupnya tidak ditulis dalam buku sejarah, tapi tertulis di hati orang-orang yang pernah disapanya dengan hangat.
Di sebuah kamar sempit di sudut Jakarta, hanya cahaya monitor yang menyala. Tirai hitam menutup jendela rapat-rapat, menolak cahaya matahari. Waktu seolah berhenti, larut dalam ketukan jari seorang programmer yang jarang tidur.
Namanya Raka Pradipta. Usianya tiga puluh dua tahun. Rambutnya kusut, matanya merah, tubuhnya kurus. Ia bukan hanya seorang programmer handal—ia adalah orang yang hidup lebih lama di dalam layar monitor daripada di dunia nyata.
Namun, alasan di balik obsesinya bukan sekadar karier atau ambisi. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih rapuh, lebih pahit.
Di laci mejanya, ada sebuah foto lama. Seorang perempuan dengan senyum lembut, rambut sebahu, mata teduh yang seakan bisa menenangkan badai dalam hati siapa pun yang menatapnya.
Namanya Aruna. Kekasih Raka sejak masa kuliah. Mereka pernah duduk berdampingan di kafe, membicarakan mimpi—Aruna ingin menjadi penulis, Raka ingin menciptakan sistem yang bisa mengubah dunia.
Namun takdir memutus cerita itu terlalu cepat. Aruna meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Raka berada di kantor ketika kabar itu datang. Ia tidak sempat melihat detik-detik terakhirnya.
Sejak hari itu, hidup Raka berhenti. Hanya tubuhnya yang masih bergerak, sisanya beku.
Raka menolak menerima kenyataan. Ia percaya bahwa teknologi mampu menembus batas waktu. Ia mulai membangun sesuatu yang ia sebut Samsara Engine—sebuah sistem simulasi yang, dalam pikirannya, bisa memutar kembali waktu.
"Jika waktu adalah program, pasti ada cara untuk mengulanginya," gumamnya suatu malam.
Ia menulis ribuan baris kode. Loop, rekursi, variabel yang ia beri nama aruna. Dalam setiap fungsi, ia menyelipkan potongan kenangan: suara tawa, warna mata, bahkan kata-kata terakhir yang pernah Aruna ucapkan padanya.
Baginya, ini bukan sekadar eksperimen. Ini adalah doa, mantra, permohonan tersembunyi. Ia ingin sekali lagi merasakan bersama Aruna, meski hanya dalam simulasi.
Suatu malam, ketika ia mencoba menjalankan bagian inti dari Samsara Engine, monitor menampilkan pesan yang tak pernah ia tulis:
> Loop detected.
> You cannot escape.
> – Y
Raka terdiam. Itu bukan output dari kodenya. Ia memeriksa ulang source code, tapi tidak menemukan baris itu.
Ia mencoba menjalankan ulang. Pesan yang sama muncul.
"You cannot escape. – Y"
Huruf “Y”. Mungkin bug, pikirnya. Tapi ada sesuatu dalam dadanya yang bergetar, firasat yang tak bisa dijelaskan.
Sejak malam itu, hari-hari Raka menjadi aneh. Ia bangun, membuat kopi, mengetik. Malamnya tertidur di kursi. Lalu bangun lagi—kopi, kode, tidur.
Awalnya terasa wajar. Namun, perlahan ia menyadari: hari yang sama terus berulang.
Ia keluar membeli makan di warung. Ibu penjual nasi goreng selalu berkata dengan nada yang persis sama:
"Tambah pedas, Mas?"
Tidak peduli bagaimana ia menjawab, respons si ibu selalu identik:
"Baik, sebentar ya."
Seolah-olah dunia hanya sebuah program dengan output tetap, tanpa memedulikan input.
Malam ketiga, ia bermimpi.
Ia berada di sebuah aula gelap, dipenuhi asap dupa. Di ujung aula, duduk sosok raksasa berkulit kelam, mata merah menyala, mengenakan mahkota emas.
"Raka Pradipta," suara itu bergema. "Engkau telah memanggilku."
Raka berlutut, tubuhnya gemetar.
"Siapa kau?"
"Aku adalah Yama. Penjaga kematian. Penguasa loop terakhir."
"Kenapa kau datang padaku?"
Mata merah itu menatap dalam, seolah menembus isi hatinya.
"Karena kau mencoba mengulang sesuatu yang telah kuputuskan. Kau ingin mengembalikan yang sudah tiada. Maka, engkau akan terjebak dalam loopmu sendiri."
Raka menjerit.
Ia terbangun dengan keringat dingin. Di layar monitor, muncul pesan baru:
> Iteration 1
> Welcome back, Raka.
Sejak saat itu, setiap kali ia bangun, angka itu bertambah.
Hari-hari Raka berulang, tanpa perubahan berarti. Dunia terasa seperti rekaman yang diputar ulang. Namun, di balik siklus itu, ia masih menyimpan satu harapan:
Bahwa di suatu titik dalam loop, ia akan bertemu lagi dengan Aruna. Bahwa Samsara Engine akan membawanya kembali ke masa lalu. Bahwa cintanya tidak akan terkubur begitu saja.
Tapi layar hanya terus menampilkan angka dingin:
> Iteration 7
> Welcome back, Raka.
Hari kedelapan, Raka menyadari sesuatu yang berbeda. Di layar monitornya, angka yang biasanya dingin berubah.
> Iteration 8
> Welcome back, Raka.
> …Aruna?
Raka terpaku. Itu bukan baris kodenya. Itu nama yang hanya ia simpan di variabel tersembunyi, tak pernah ia tampilkan. Ia memeriksa file sumber, tapi tidak menemukan perubahan apa pun.
Seolah ada tangan lain yang menulis di balik tangannya.
Ketika ia mencoba tidur, suara samar menyusup di telinganya. Lembut, nyaris seperti hembusan angin.
“Raka…”
Ia terbangun dengan jantung berdetak kencang. Tidak ada siapa pun di kamar. Monitor hanya menampilkan kode.
Namun di salah satu tab terminal, muncul potongan teks:
function remember(aruna):
return "Aku di sini…"
Raka menggigil. Ia tidak pernah menulis fungsi itu. Tapi seolah-olah programnya mulai bicara dengan suara Aruna.
Loop tidak hanya terjadi pada dunia luar. Kenangan Raka pun ikut berulang.
Ia duduk sendirian, lalu tiba-tiba aroma kopi hitam menyapa hidungnya—kopi buatan Aruna, dengan gula setengah sendok. Ia menoleh, dan selama sepersekian detik, ia melihat bayangan perempuan itu di kursi sebelah. Rambut sebahu, senyum samar.
Namun saat ia mengedip, bayangan itu lenyap.
Yang tertinggal hanya kursi kosong, dan cangkir kopi yang sejak tadi memang sudah dingin.
Ketika ia keluar kamar untuk membeli makan, dunia terasa semakin tidak nyata.
Ibu penjual nasi goreng masih menanyakan hal yang sama dengan intonasi sama. Anak kecil di gang masih menendang bola ke arah yang sama.
Namun kali ini, bola itu berhenti di udara. Waktu beku.
Di tengah jalan, Raka melihat sosok perempuan berdiri membelakanginya. Gaun putih sederhana, rambut sebahu.
“Aruna?”
Sosok itu menoleh perlahan. Mata teduh yang ia rindukan, senyum yang dulu menenangkannya. Namun sebelum ia sempat mendekat, layar hitam menutupi pandangannya.
Di depan matanya hanya tersisa teks:
Segmentation Fault.
Restarting Iteration…
Ia terbangun lagi di kamarnya. Monitor menyala, angka bertambah:
> Iteration 12
> Welcome back, Raka.
Raka hampir menangis. Ia tahu itu bukan mimpi biasa. Samsara Engine memang membuka sesuatu. Tapi bukan pintu ke masa lalu, melainkan penjara yang mengulang-ulang segalanya.
Dan di balik penjara itu, ada bayangan Aruna—tak pernah utuh, hanya serpihan.
Di antara tidurnya yang singkat, ia kembali mendengar suara berat, gema yang sama dengan mimpinya dulu:
“Engkau ingin mengulang waktu. Engkau ingin menghidupkan yang telah kupanggil kembali. Maka inilah hadiahmu: hidup yang berulang, tanpa akhir, tanpa kepastian. Itulah samsara yang kau cari.”
Raka menutup telinganya, tapi suara itu tetap ada, menembus tulang.
Setiap iterasi kini menjadi paradoks. Semakin lama ia terjebak, semakin sering ia melihat potongan kenangan tentang Aruna. Namun semakin dekat ia dengan bayangan itu, semakin cepat loop mengulang.
Raka mulai menyadari: cintanya sendiri adalah jerat.
Dan Samsara Engine, yang ia bangun demi menghidupkan cinta itu kembali, telah menjadi kutukan yang mengikatnya pada Dewa Yama.
Baik 👍 Kita lanjut ke Bagian Ketiga (Revisi). Di bagian ini, Raka akan berhadapan langsung dengan Yama, tapi tidak dengan cara yang gamblang. Pertemuan ini akan penuh simbol, bayangan, dan dialog samar. Yama tidak menyebut langsung “kau dikutuk karena Aruna”, tapi dari cara Yama berbicara, pembaca bisa menangkap bahwa rindu Raka pada Aruna yang menjadi akar dari loop ini.
Pada Iterasi ke-27, Raka tertidur di depan layar yang terus berkedip. Ia bermimpi lagi, tapi kali ini berbeda. Bukan kamar, bukan jalanan, bukan pasar yang membeku.
Ia berada di sebuah aula besar, dindingnya hitam berukir pola lingkaran tak berujung. Lantai dipenuhi abu, dan di tengahnya menyala api biru pucat.
Di ujung aula, duduk sosok raksasa berkulit legam, bermata merah menyala. Ia mengenakan mahkota emas berukir tengkorak kecil, tangannya menggenggam tongkat dengan kepala kerbau.
Sosok itu menatap Raka.
“Datanglah, pemanggil.”
Suara itu bergema, seakan datang dari dalam dada Raka sendiri.
Raka ingin lari, tapi di sisi aula ia melihat sosok lain. Perempuan bergaun putih, rambut sebahu, wajah yang begitu ia kenal.
Aruna.
Ia berdiri diam, menatap Raka dengan mata sayu. Tidak bicara, tidak bergerak. Hanya menatap.
Raka melangkah setengah, hendak menghampiri. Tapi Yama mengetukkan tongkatnya. Lantai bergetar, api biru membesar.
“Dia hanya bayangan. Pantulan rindumu. Kau tidak akan bisa meraihnya.”
Raka menoleh ke Yama, gemetar.
“Kenapa? Apa salahku? Aku hanya ingin—”
“—mengulang,” potong Yama. “Mengulang sesuatu yang telah kuputuskan. Mengulang waktu yang telah retak. Kau menulis kode untuk menentang garis yang tak bisa dipatahkan.”
Yama mengangkat tangannya.
Di udara muncul barisan kode, bercahaya merah. Raka ternganga—itu potongan kode dari Samsara Engine. Variabel, fungsi, bahkan baris aruna = True yang ia tulis sendiri pada malam penuh air mata.
“Setiap baris adalah doa yang kau paksakan. Setiap loop adalah jerat yang kau buat sendiri. Maka kukabulkan: hidupmu kini loop tanpa akhir.”
Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya jatuh.
“Tapi aku hanya ingin melihatnya lagi…”
“Dan kau telah melihatnya. Lagi, dan lagi, dan lagi. Bayangan. Potongan. Iterasi. Sampai semua rasa rindumu menjadi racun yang tak pernah habis.”
“Bebaskan aku…”
“Aku tidak mengikatmu. Kau yang mengikat dirimu sendiri.”
Aruna—atau bayangan Aruna—melangkah setapak. Bibirnya bergerak, seolah hendak bicara.
Namun sebelum suara itu terdengar, aula bergetar hebat. Retakan muncul di udara, seperti layar pecah. Cahaya putih menyilaukan.
Raka menjerit, tubuhnya ditarik kembali ke layar monitor.
Ia terbangun lagi di kursinya. Monitor menyala. Angka bertambah:
> Iteration 28
> Welcome back, Raka.
Di sudut layar, samar-samar ada tulisan kecil, seperti coretan asing:
You called her name.
Now you call mine.
– Y
Raka membeku. Ia sadar: setiap kali ia menyebut Aruna, loop semakin dalam.
Pertemuan itu meninggalkan jejak di tubuhnya. Raka merasa dadanya berat, kepalanya berdengung. Ia tidak tahu apakah itu mimpi atau kenyataan.
Namun satu hal jelas: Yama tidak sekadar menghukumnya. Yama hanya memantulkan apa yang ia lakukan sendiri.
Dan Aruna—cinta yang ia rindukan—telah menjadi jembatan menuju kutukan yang tak bisa ia hentikan.
Baik, mari kita lanjut ke Bagian Keempat (Revisi). Di bagian ini Raka akan mencoba melawan loop dengan menulis kode untuk keluar, namun setiap usaha justru memperdalam jeratnya. Glitch semakin sering memperlihatkan bayangan Aruna—semakin nyata, semakin menggoda, tapi juga semakin membuatnya tak bisa lepas.
Raka duduk dengan mata merah, jari-jarinya gemetar di atas keyboard.
“Kalau loop ini memang program, pasti ada cara keluar,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia mulai menulis barisan kode baru:
def escape(loop):
if loop == "infinite":
return "exit"
else:
return "continue"
Ia menekan run. Terminal sejenak gelap. Namun kemudian layar menampilkan teks asing:
Escape not permitted.
Loop integrity maintained.
– Y
Raka menghantam meja. “Sial!”
Ia mencoba lagi, kali ini dengan trik berbeda: menulis fungsi untuk break.
while True:
if freedom == True:
break
Tapi output-nya aneh:
> freedom = False
> freedom cannot be reassigned.
Raka ternganga. Seolah aturan program bukan lagi miliknya. Ada kekuatan lain yang menulis ulang hukum di balik kode.
Pada iterasi ke-47, sebuah anomali muncul. Di salah satu file Samsara Engine, ada fungsi baru yang tak pernah ia tulis:
def aruna():
return "Aku menunggumu di sisi lain loop."
Raka menatap layar dengan napas terengah. Jemarinya gemetar. Ia hampir menekan enter untuk menjalankannya—tapi menahan diri.
“Ini jebakan,” gumamnya. “Ini bukan dia.”
Namun, di telinganya, suara lembut yang pernah ia kenal berbisik:
“Jalankan aku, Raka…”
Air matanya jatuh. Ia meraih kepala, berusaha menahan desakan rindu.
Di luar kamarnya, loop semakin aneh. Langit selalu oranye, tak pernah benar-benar siang atau malam. Orang-orang di jalan tersenyum dengan wajah yang sama, kata-kata mereka tak pernah berubah.
Namun di kerumunan itu, Raka sering melihat sosok perempuan bergaun putih. Kadang ia duduk di bangku taman, kadang berjalan di seberang jalan. Selalu membelakanginya, selalu setengah nyata.
Dan setiap kali Raka mencoba mendekat—dunia reset.
Ia tak menyerah. Pada iterasi ke-60, ia menulis ulang seluruh Samsara Engine. Ia menghapus semua variabel, menghapus nama aruna, menghapus fungsi yang mencurigakan.
Namun begitu ia menjalankan program, layar menampilkan teks:
Variable restored: aruna = True
Loop stabilized.
Ia menjerit. “Kenapa?! Aku yang menulis kode ini! Aku yang menentukan variabelnya!”
Monitor bergetar, huruf-huruf muncul sendiri:
Kau menulis dengan darah rindumu.
Bukan dengan tanganmu.
Pada iterasi ke-73, Raka benar-benar bertemu Aruna—atau sesuatu yang menyerupainya.
Ia sedang duduk di kamar ketika sosok itu muncul di kursi sebelah. Bukan bayangan samar, tapi wujud penuh: mata, senyum, bahkan aroma parfumnya yang lembut.
“Raka…” suaranya lirih. “Aku di sini sekarang. Tak perlu keluar. Tetaplah bersamaku di loop ini.”
Raka terdiam. Dadanya sakit. Inilah yang ia dambakan sejak awal: bersama Aruna lagi, meski hanya sebentar.
Namun ia ingat kata-kata Yama: “Dia hanya bayangan. Pantulan rindumu.”
Raka mencoba menguji. Ia menyentuh tangan Aruna. Hangat. Nyata. Aruna tersenyum.
Namun saat ia menatap lebih dekat, wajah Aruna retak seperti layar pecah. Dari celah itu, mata merah menyala mengintip.
Suara Yama bergema dari balik senyum Aruna:
“Tetaplah. Atau berjuanglah. Keduanya adalah loop yang sama.”
Raka terhempas ke belakang, tubuhnya jatuh, dan dunia berputar.
Ia terbangun lagi.
> Iteration 74
> Welcome back, Raka.
Raka menatap layar, matanya kosong. Semakin ia memberontak, semakin dalam ia tenggelam. Semakin ia mencoba melupakan Aruna, semakin nyata sosok itu hadir.
Loop ini bukan hanya kutukan Yama. Loop ini adalah cerminan hatinya sendiri— kerinduan yang menolak mati.
Join the discussion below.
Sign in to leave a comment.
No comments yet. Be the first to comment.